Hari UMKM Internasional, PB HMI : UMKM Bangkit Indonesia Maju

UMKM Ditengah Pandemi

Tepat tanggal 27 juni 2020 peringatan hari UMKM internasional di dengungkan, hal ini menjadi efek baik bagi pelaku UMKM lokal yang menghadapi masa pandemi seperti saat ini.

Ancaman corona virus disease (Covid-19) berpotensi mendorong Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) menekan impor komoditas pertanian dan bahan pokok lainnya.
Para pelaku UMKM bahkan dapat mencari peluang dari terhambatnya aktivitas impor dan ekspor pada masa pandemi virus corona.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor barang konsumsi hasil pertanian mencapai 10 miliar dollar Amerika Serikat (AS) sepanjang 2019 atau sekitar Rp 140 triliun.

Praktisi Koperasi Milenial dan Ekonomi Kerakyatan, Frans Meroga Panggabean, dalam pernyataan tertulis, mengatakan,
“Bila produk UMKM dapat berorientasi substitusi impor, maka sama artinya mencetak minimal 2 juta orang agropreneur baru,”
“Langkah itu berpotensi mencetak lapangan pekerjaan baru, menekan angka kemiskinan, mengurangi defisit neraca perdagangan, juga menjadi momentum kebangkitan kedaulatan pangan nasional,”.

Sektor impor sudah semestinya dilakukan penekanan massif, demi menjaga ketahanan ekonomi dan membantu pengusaha lokal atau pelaku umkm mengembangkan usahanya khususnya komoditi pertanian dan bahan pokok lainnya saat pandemi ini.

UMKM Bangkit Indonesia Maju

Negara kita sesungguhnya telah mengalami kemajuan pesat jika pemerintah dan pelaku usaha saling bersinergi tanpa pandang bulu, dan meberpihakan pada orientasi sektor ekonomi tertentu.

Sebagai orang Indonesia tentu pemandangan dan aktivitas kita sehari-hari tak lepas dari berbagai layanan dan barang hasil kreasi pelaku UMKM. Dimulai dengan aktivitas pagi hari yang di beli adalah hasil UMKM, contohnya kita membeli kebutuhan pokok di warung dekat rumah. Adapun di masa pandemii COVID-19,membawa dampak yang sangat luar biasa bagi para pelaku UMKM.

READ  PRINCE see how the fashion world was influenced by Prince’s Legendary style

Data membuktikan menurunnya tingkat penghasilan masyarakat sehingga dapat menurunkan daya beli dan penghasilan bagi para pelaku UMKM.
Penyebaran (Covid-19) memukul perekonomian Indonesia, termasuk pelaku usaha.

Hal tersebut disebabkan, UMKM memiliki kontribusi sebesar 60,3% dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Selain itu, UMKM menyerap 97% dari total tenaga kerja dan 99% dari total lapangan kerja. UMKM tercatat sebanyak 64,2 juta unit.(data BPS 2020)
Melihat hal demikian sebagai bentuk transisi pembangunan ekonomi di masa pandemi ini.

Kita bersama membangun dan menggerakkan ekonomi dari usaha rumahan dan membantu menghidupkan UMKM sekitaran dengan cara membeli kebutuhan pokok di warung dekat rumah,mengarahkan para pelaku UMKM untuk pengalihan usaha yang berpotensial saat pandemi covid-19.

Hari ini sering didengungkan kalimat revolusi Industri 4.0 yang disimbolkan dengan kemajuan teknologi berbasis internet yang terkemas dalam istilah “ekomomi digital”. Kecanggihan dunia virtual ini mulai menggerogoti eksistensi pelaku usaha konvensional, tidak terkecuali pelaku usaha besar.

StartUp merupakan solusi, artinya memulai tanpa harus dari awal, ide-ide dan gagasan real harus dikembangkan, sehingga menghasilkan kenormalan baru bagi pelaku UMKM.
Kecanggihan dalam men-sinergikan internet, data dan mesin di era revolusi industri 4.0 telah melahirkan berbagai terobosan brilian yang melahirkan efisiensi memudahkan masyarakat dalam mengakses harga yang lebih terjangkau.

Mengapa UMKM mundur

Pemerintah menurunkan pajak UMKM menjadi 0,5 persen, agar geliat bisnis UMKM semakin berkembang pesat.
Namun, apakah penurunan pajak telah membebaskan pengusaha dari segala permasalahan UKM yang membelitnya?
Ternyata tidak.
Masih banyak para pengusaha UMKM terkendala modal usaha, strategi pemasaran, hingga akses teknologi digital. Akibatnya, usaha mereka berjalan stagnan dan tidak mengalami kemajuan yang signifikan.
Lalu ada apa dengan UMKM Kita?
Kami merangkum 3 masalah besar yang di alami pelaku UMKM Saat ini.

  1. Minimnya Modal Usaha
    Jadi Permasalahan UKM Paling Mendasar
    Permasalahan UKM paling utama  adalah minimnya modal usaha. Akibatnya, para pengusaha tidak bisa menaikkan jumlah produksinya untuk mencapai omzet lebih banyak.
    Ide bisnis baru untuk perluasan usaha pun kerap kali harus disingkirkan jauh-jauh karena permasalahan yang satu ini.
    Namun itu bukan berarti tak ada solusi dan kita semua mengetahui bahwa negara kita membuka ruang sebesar-besarnya bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha lewat pinjaman dengan bunga rendah, tapi jika pengusaha UKM kesulitan dalam mencari modal pembiayaan dari bank, karena banyaknya persyaratan yang belum terpenuhi. Jika Anda mengalami masaah ini, solusi yang bisa Anda terapkan untuk mengumpulkan modal usaha. Sebenarnya ada berbagai lembaga pendanaan yang menawarkan modal pembiayaan berbasis sistem equity crowd funding. Melalui fasilitas ini, pelaku umkm bisa mendapatkan modal usaha dari orang-orang yang berminat untuk membiayai suatu usaha, termasuk usaha skala kecil menengah (UKM).
    Beberapa contoh pendanaan dengan sistem crowd funding antara lain: Gandengtangan.com, Indiegogo.com, kolase.com, Akseleran.com, Koinworks.com, dll. Tentunya, ada beberapa syarat yang harus lengkapi untuk mendapatkan pendanaan dari berbagai perusahaan tersebut. Namun, syarat tersebut tidak serumit jika meminjam dana dari bank.
  2. Taunya Hanya Bisnis Kecil Dan Tidak Mampu Dikembangkan. Tidak sedikit pelaku UKM hanya fokus memproduksi barang, tanpa memikirkan bagaimana strategi ekspansi bisnisnya lebih besar lagi, Usaha yang mereka jalankan tidak berkembang dan omzet yang didapat tidak mengalami kenaikan. Solusinya adalah selalu up to date dengan perkembangan strategi bisnis terbaru, satu-satunya cara yang harus di lakukan adalah banyak membaca dan belajar.
  3. Kesulitan Pemasaran Online. Permasalahan UKM yang ini masih berhubungan erat dengan poin kedua sulitnya mendistribusikan barang, Salah satu faktor yang menyebabkan pendistribusian barang UKM kurang meluas karena pengusaha belum melakukan pemasaran online. Mungkin, beberapa pelaku UKM sudah memasarkan produknya secara online melalui media sosial, situs marketplace, dll, akan tetapi dalam prakteknya masih kurang maksimal. Sehingga, hasil yang didapat pun kurang maksimal.Cara Mengatasinya Untuk memaksimalkan pemasaran online, hal utama yang harus dilakukan pengusaha UKM adalah memilih saluran pemasaran online yang tepat, lalu fokus memasarkan di saluran tersebut, dan terus mengoptimasinya.Misalnya, seorang pengusaha kerajinan tangan sebaiknya memasarkan produknya melalui Instagram. Memang tidak ada salahnya memasarkan produk tersebut ke saluran lain, misalnya Facebook atau situs marketplace. Namun, sebagai permulaan, sebaiknya fokus memasarkan di satu saluran saja. Lalu, lakukan optimasi secara berkala agar pemasaran di saluran tersebut menghasilkan peningkatan konversi. Setelah fokus di satu saluran, Anda bisa lanjut mengoptimasi saluran yang lain, sehingga penjualan produk Anda semakin meningkat. Membuka peluang reseller/ dropshipper atau bermitra dengan perusahaan pemesanan online juga tidak ada salahnya untuk Anda coba. Dengan semakin banyaknya orang yang mempromosikan produk Anda, maka peluang terjadinya penjualan pun semakin besar.
READ  PMII Makassar UNRAS Malam Hari Tuntut Keadilan

Komisi ekonomi kreatif UMKM Dan Ketenaga kerjaan PB HMI MPO periode 2020-2022 adalah salah satu komisi yang diupayakan mampu menjawab tantangan ekonomi berbasis kerakyatan, informasi ini dikutip dari berbagai sumber yang berbeda, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Selamat Hari UMKM Internasional 2020.

Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, Komisi Ekonomi Kreatif UMKM dan Ketenagakerjaan. Samsuryadi Ketua Komisi, Saddam Dewana Wakil Sekjend, Nazamuddin Anggota, Fhajriansyah Syam Anggot, Fajrian Ramadhan Anggota.

Leave A Reply

Your email address will not be published.