Menyongsong Peradaban Baru FORHATI NTT Menuju NTT Berkemajuan

Menyongsong Peradaban Baru FORHATI NTT Menuju NTT Berkemajuan
Oleh : Rahmad Nasir, M.Pd.
KAHMI Alor

Disampaikan pada momentum Musyawarah Wilayah (Muswil) I Forum Alumni KOHATI/HMI-Wati (FORHATI) Nusa Tenggara Timur yang digelar pada hari minggu tanggal 28 Juni 2020 di Kupang

Musyawarah Wilayah (Muswil) I Forum Alumni KOHATI/HMI-Wati (FORHATI) Nusa Tenggara Timur yang digelar pada hari minggu tanggal 28 Juni 2020 di Kupang mengangkat tema seperti judul di atas. Hal ini dikarenakan telah berakhirnya roda organisasi kepengurusan FORHATI 2013-2018. Untuk itulah dibentuk kepanitiaan dalam menyukseskan Muswil I Forhati. Forhati yang jika masuk 12 Desember 2020 ini akan berulang tahun yang ke 22 tentu perlu memperkuat eksistensinya bagi kemaslahatan umat dan bangsa melalui pencapaian kualitas Insan Cita sebagaimana cita-cita selama ber-HMI.
Dalam konteks FORHATI di NTT yang baru berjalan satu periode kepengurusan dan baru saja melakukan Muswil pertama telah membangkitkan ekspektasi dan optimisme yang tinggi bagi kader-kader Korps HMI-Wati yang kini menjadi alumni dan tergabung ke dalam Forum Alumni HMI-Wati. Ekspektasi yang dimaksudkan adalah bagaimana organisasi ini bisa berkiprah mewujudkan mimpi-mimpi ideal HMI yang terus diperjuangkan selama hayat dikandung badan. Beberapa harapan untuk menyongsong peradaban menuju NTT berkemajuan paling tidak dapat dilihat bagaimana FORHATI bersikap atau berkontribusi pada isu-isu sebagaimana berikut.
Pertama, tanggung jawab secara internal dalam memperkuat kelembagaan Forhati agar kekompakan dalam bergerak bersama sehingga perjuangan yang dilakukan tentu melalui suatu kerja tim yang solid, kuat, dan berorientasi pada visi misi organisasi. Saat internal organisasi kuat maka performance di mata publik akan baik dan daya dorong untuk berkontribusi khususnya pada isu-isu perempuan di NTT semakin nyata. Olehnya itu segera membentuk Cabang-Cabang di Kabupaten/Kota yang ada di NTT dalam rangka penguatan kelembagaan untuk pendekatan pelayanan dalam ruang pengabdian.
Kedua, mengembangkan kepedulian melalui berbagai ruang pengabdian dengan peran-peran strategis, partisipatif aktif dan kritis untuk mendukung agenda-agenda pemerintah seperti isu-isu perempuan, anak, dan HAM serta berbagai isu lain yang juga strategis. Sampai saat ini memang FORHATI NTT belum kedengaran begitu masif kontribusinya pada isu-isu tersebut di NTT. Padahal banyak kasus-kasus perdagangan manusia di NTT (Human Trafficking), Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pelecehan seksual anak di bawah umur, dan berbagai hal negatif lainnya yang membutuhkan sentuhan lembut tangan FORHATI sebagai bagian dari kekuatan sosial di Indonesia. Bukan hanya itu sebagai aktivis dengan karatkter Islam (muslimah) bagaimana sikapnya terhadap isu gender, budaya patriarki yang begitu tinggi di NTT, belis dalam adat perkawinan di NTT, isu miring terhadap praktek poligami menurut Islam, partisipasi perempuan dalam kepemimpinan di ruang publik NTT, Kesehatan Ibu dan anak NTT hingga tanggung jawab keagamaannya dalam mendidik putra-putri baik dalam ranah domestik maupun publik serta berbagai isu-isu terkait lainnya.
Ketiga, tangung jawab perkaderan sebagai Ibu, anak, bibi/tante, nenek, aktivis muslimah dengan berbagai perannya dalam urusan kaderisasi pemimpin berdimensi Ke-Indonesiaan dan ke-Islaman serta keilmuan yang memilikin kepekaan sosial yang tinggi untuk ikut terlibat memecahkan persoalan-perosoalan bangsa yang multidimensi. Output dari kaderisasi ini adalah mengorbitkan kader-kader HMI-Wati di segala lini/ruang pengabdian dengan menunjukkan kompetensi dan integritas yang khas sebagai aktivis muslimah HMI-Wati.
Berikut ini beberapa isu-isu keperempuanan NTT yang mesti diperjuangkan oleh FORHATI NTT di antaranya adalah keadilan terhadap perempuan dan anak dalam memperoleh hak hidup yang layak, serta aman dan nyaman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Tuntutan terhadap negara/pemerintah untuk memberikan rasa adil bagi perempuan dan anak mendapat perlindungan tindakan kekerasan (fisik, verbal, psikis) di wilayah domestik maupun publik. Berbagai peraturan perundang-undangan tentang isu perempuan dan isu terkait yang berlaku mulai dari level konstitusi tertinggi hingga aturan turunan terkecil yang diberlakukan di daerah-daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota harus terus dikaji/dikawal untuk memberikan rasa adil bagi kaum perempuan dalam hidup dan kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Revitalisasi akses perempuan agar mudah dalam modal usaha dari pemerintah, perbankan, dan lembaga donor lainnya agar perempuan mampu berkiprah dalam dunia bisnis terutama yang berkaitan dengan keterampilannya. Adil dalam memperoleh akses pekerjaan, pengembangan karir dan berbagai aktivitas dalam dunia publik.
Isu-isu yang disebutkan tersebut paling tidak ada dalam agenda kerja FORHATI terutama dalam pembahasan di forum MUSWIL FORHATI I NTT dengan maksud memberikan catatan reflektif untuk bergerak dalam kepengurusan yang baru nantinya. Momentum Muswil harus dipandang sebagai titik balik kebangkitan Forhati menunjukkan kiprahnya dalam dunia kemasyarakatan secara nyata bagi Umat Islam Flobamora dan Masyarakat NTT pada umumnya. Hal ini dalam rangka ikut menunjang perwujudan peradaban di NTT atau yang disebut sebagai NTT berkemajuan. Tentu dalam langkah-langkah awal tidak harus seideal mungkin, tidak harus dalam agenda-agenda besar namun yang intinya adalah perlahan namun tetap berjalan secara berkelanjutan (sustainable) dan konsisten dari waktu ke waktu. Untuk mengawal sepak terjang FORHATI NTT mesti dibentuk media khusus FORHATI untuk meliput/mendokumentasikan semua agenda FORHATI atau paling tidak kader-kader FORHATI bisa menarasikannya dalam naskah akademik berupa jurnal/majalah/buku/artikel/opini secara berkelanjutan sehingga menjadi bagian dari kaderisasi di lini literasi dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Akhirnya, kami menyambut baik ikhtiar melaksanakan Muswil I ini yang semoga menghasilkan keputusan-keputusan organisasi yang strategis dan mampu diwujudnyatakan dalam kiprah kader-kader alumni HMI-Wati di masyarakat. Selamat melaksanakan Musyawarah Wilayah (MUSWIL) I Forum Alumni Kohati (FORHATI). Yakin Usaha Sampai Menuju Muslimah Berkualitas Insan Cita, Menuju NTT berkemajuan.

READ  Ungkapan Kritik Akibat Polemik Pandemi Hadir Dikalangan Tim Medis.

Editor : Ari Kapitang

Leave A Reply

Your email address will not be published.